Loading...

AI dan Otomatisasi Meningkat, Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental?

AI dan Otomatisasi Meningkat, Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental?

AI dan Otomatisasi Meningkat, Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental?

Senin, 28 Juli 2025 – Penulis: Arum Laili Fitroh, S.Psi.
AI dan Otomatisasi Meningkat, Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental?Surabaya, Surabaya, 25 Juli 2025 Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi dalam berbagai sektor kerja menghadirkan tantangan baru terhadap kesehatan mental. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan dan perubahan sistem kerja yang cepat dinilai menjadi pemicu stres dan kecemasan di kalangan pekerja.Laporan World Economic Forum (WEF) 2023 menyebutkan bahwa sebanyak 14 juta pekerjaan global akan tergantikan oleh mesin hingga 2027. Meskipun otomatisasi membawa efisiensi tinggi, dampak psikologisnya mulai dirasakan.“Banyak pekerja mengalami stres karena khawatir tergantikan, terutama mereka yang kurang memiliki keterampilan digital,” ujar dr. Anindya Rachma, psikolog industri, kepada media, Kamis (25/7).Selain itu, muncul fenomena “burnout digital” akibat tekanan kerja yang meningkat. Sistem AI memang membantu proses kerja, tetapi seringkali menuntut adaptasi yang cepat dan kerja nonstop, terutama dalam sistem kerja hybrid atau remote.Tak hanya pekerja, masyarakat umum pun terdampak. Interaksi sosial yang dulu dilakukan secara langsung kini tergantikan oleh chatbot dan layanan otomatis. Hal ini memicu rasa kesepian dan keterasingan, khususnya di kalangan lanjut usia dan individu dengan masalah kesehatan mental.Meski demikian, AI juga memberi dampak positif di bidang kesehatan jiwa. Aplikasi terapi digital seperti Woebot dan Wysa kini banyak digunakan untuk memberikan dukungan emosional secara instan, terutama di daerah terpencil yang kekurangan tenaga psikolog. AI juga digunakan untuk mendeteksi tanda awal depresi dan kecemasan melalui data aktivitas digital.Namun, penggunaan teknologi ini juga menimbulkan tantangan etika, terutama soal perlindungan data pribadi pengguna.“Privasi data mental health adalah hal sensitif. Harus ada regulasi ketat,” tegas Ahmad Yusuf, pakar teknologi informasi.Untuk itu, para ahli menekankan pentingnya pelatihan ulang tenaga kerja, edukasi digital, serta pendekatan etis dalam penerapan AI. Teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan menggantikan peran manusia secara total. Pemerintah, pelaku industri, dan penyedia layanan kesehatan mental diminta berkolaborasi agar transisi digital ini tidak mengorbankan kesejahteraan psikologis masyarakat.
Kembali
Butuh Bantuan?
Lisa Mitra Mandiri Chat
Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?