Loading...

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Krisis Iklim Picu Kelelahan Mental, Pakar Psikologi Serukan Tindakan

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Krisis Iklim Picu Kelelahan Mental, Pakar Psikologi Serukan Tindakan

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Krisis Iklim Picu Kelelahan Mental, Pakar Psikologi Serukan Tindakan

Senin, 28 Juli 2025 – Penulis: Arum Laili Fitroh, S.Psi.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Krisis Iklim Picu Kelelahan Mental, Pakar Psikologi Serukan Tindakan Kolektif
*Tanggal:* 5 Juni 2025
*Surabaya Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, para psikolog di Indonesia dan dunia menyoroti dampak psikologis dari krisis iklim dan degradasi lingkungan terhadap kesehatan mental masyarakat. Fenomena ini dikenal sebagai *eco-anxiety* atau kecemasan lingkungan—sebuah kondisi psikologis yang kini semakin umum terjadi, khususnya di kalangan anak muda.
Menurut Dr. Maya Rinaldi, psikolog klinis dan peneliti isu lingkungan di Universitas Indonesia, eco-anxiety adalah reaksi emosional yang muncul akibat kekhawatiran terhadap kerusakan alam, perubahan iklim, dan masa depan bumi.
> “Kita melihat peningkatan keluhan seperti stres, insomnia, rasa bersalah, bahkan depresi ringan akibat meningkatnya kesadaran akan kerusakan lingkungan. Ini bukan tanda kelemahan, tapi justru bentuk empati terhadap planet ini,” jelas Dr. Maya.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini mengusung tema “Land Restoration, Desertification, and Drought Resilience”, yang semakin menyoroti tantangan nyata yang dihadapi manusia. Namun di balik itu, terdapat beban emosional yang seringkali tidak disadari: perasaan tak berdaya menghadapi skala masalah lingkungan yang begitu besar.
*Kesehatan Mental dan Lingkungan: Hubungan Dua Arah*
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lingkungan yang rusak juga memperburuk kesehatan mental. Polusi udara, kebisingan, kurangnya ruang hijau, dan suhu ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti gangguan kecemasan dan depresi. Sebaliknya, berada di alam bahkan hanya berjalan di taman terbukti bisa menurunkan kadar hormon stres kortisol dan meningkatkan suasana hati.
> “Ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal fisik bumi, tapi juga soal keseimbangan batin manusia,” tambah Dr. Maya.
*Solusi Psikologis: Dari Kesadaran ke Aksi*
Untuk mengatasi tekanan mental akibat krisis lingkungan, para psikolog mendorong pendekatan berbasis komunitas dan tindakan kolektif. Melibatkan diri dalam gerakan lingkungan, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, dan berdiskusi dengan sesama tentang kecemasan iklim terbukti membantu mengurangi rasa terisolasi dan tidak berdaya.
Selain itu, pendidikan lingkungan yang juga menyentuh aspek psikologis di sekolah dan media dinilai penting agar masyarakat tidak hanya paham akan bahaya, tapi juga merasa mampu bertindak.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya tentang merayakan alam, tapi juga saat untuk merenungkan bagaimana kondisi bumi mempengaruhi kesejahteraan jiwa kita. Dengan memperhatikan aspek psikologis dalam isu lingkungan, kita tidak hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga menyembuhkan diri kita sendiri.
Kembali
Butuh Bantuan?
Lisa Mitra Mandiri Chat
Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?